kasmamtafoundation

Just another WordPress.com site

  • About

Hadits Tsa’labah bin Hathib

Posted by kasmamtafoundation on November 30, 2011
Posted in: Wawasan. 2 comments

Ada sebuah hadits yang berbunyi:

وَيْحَكَ يَا ثَعْلَبَةُ، قَلِيْلٌ تُؤَدِّيْ شُكْرَهُ خَيْرٌ مِنْ كَثِيْرٍ لاَتُطِيْقُهُ. أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ مِثْلَ نَبِيِّ اللهِ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ شِئْتُ أَنْ تَسِيْلَ مَعِيَ الْجِبَالُ فِضَّةً وَذَهَبًا لَسَالَتْ.

“Artinya : Celaka engkau wahai Tsa’labah! Sedikit yang engkau syukuri itu lebih baik dari harta banyak yang engkau tidak sanggup mensyukurinya. Apakah engkau tidak suka menjadi seperti Nabi Allah? Demi yang diriku di tangan-Nya, seandainya aku mau gunung-gunung mengalirkan perak dan emas, niscaya akan mengalir untukku”

TAKHRIJ HADITS.
Hadits ini diriwayatkan oleh:
Ibnu Jarir dalam Jami’ul Bayaan (VI/425 no. 17002), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (VIII/218-219, no. 7873), ad-Dailamy, Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (XI/208) dan al-Wahidi dalam Asbaabun Nuzul (hal. 257-259).

Semuanya telah meriwayatkannya dari jalan Mu’aan bin Rifa’ah as Salamy dari Ali bin Yazid dari al-Qasim bin Abdur Rahman dari Abu Umamah al-Baahiliy, ia berkata: “Bahwasanya Tsa’labah bin Hathib al-Anshary datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar aku dikarunia harta.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: (Ia pun menyebutkan lafazh hadits di atas).

Lanjutan hadits ini adalah sebagai berikut:
Kemudian ia (Tsa’labah) berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau memohon kepada Allah agar aku dikaruniai harta (yang banyak) sungguh aku akan memberikan haknya (zakat/sedekah) kepada yang berhak menerimanya.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Ya Allah, karuniakanlah harta kepada Tsa’labah.”

Kemudian ia mendapatkan seekor kambing, lalu kambing itu tumbuh beranak, sebagaimana tumbuhnya ulat. Kota Madinah terasa sempit baginya.

Sesudah itu, ia menjauh dari Madinah dan tinggal di satu lembah (desa). Karena kesibukannya, ia hanya berjama’ah pada shalat Zhuhur dan Ashar saja, dan tidak pada shalat-shalat lainnya. Kemudian kambing itu semakin banyak, maka mulailah ia meninggalkan shalat berjama’ah sampai shalat Jum’at pun ia tinggalkan.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para Shahabat: “Apa yang dilakukan Tsa’labah?”

Mereka menjawab: “Ia mendapatkan seekor kambing, lalu kambingnya bertambah banyak sehingga kota Madinah terasa sempit baginya,…”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam mengutus dua orang untuk mengambil zakatnya seraya bersabda: “Pergilah kalian ke tempat Tsa’labah dan tempat fulan dari Bani Sulaiman, ambillah zakat mereka berdua.”

Lalu keduanya pergi mendatangi Tsa’labah untuk meminta zakatnya. Sesampainya disana dibacakan surat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan serta merta Tsa’labah berkata: “Apakah yang kalian minta dari saya ini, pajak atau sebangsa pajak? Aku tidak tahu apa sebenarnya yang kalian minta ini!”

Lalu keduanya pulang dan menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihat kedua-nya (pulang tidak membawa hasil), sebelum mereka berbicara, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celaka engkau, wahai Tsa’labah! Lalu turun ayat:

“Artinya : Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka, setelah Allah mem-berikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” [At-Taubah: 75-76]

Setelah ayat ini turun, Tsa’labah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mohon agar diterima zakatnya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menjawab: “Allah telah melarangku menerima zakatmu.” Hingga Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau tidak mau menerima sedikit pun dari zakatnya.

Dan Abu Bakar, ‘Umar, serta ‘Utsman pun tidak menerima zakatnya di masa khilafah mereka.

Keterangan: HADITS INI (ضَعِيْفٌ جِدًّا) LEMAH SEKALI
Lihat Dha’if Jami’ush Shaghiir (no. 4112).

Karena dalam sanad hadits ini ada dua orang perawi yang lemah:
[1]. Ali bin Yazid, Abu Abdil Malik, seorang rawi yang sangat lemah.
Imam al-Bukhari dalam kitabnya berkata: “Ali bin Yazid, Abu ‘Abdil Malik al-Hany ad-Dimasyqy adalah seorang perawi yang Munkarul Hadits.”
Imam an-Nasa-i berkata: “Ia meriwayatkan dari Qasim bin ‘Abdirrahman, ia Matrukul Hadits.” [Lihat adh-Dhu’afaa’ wal Matrukiin (no. 455).]
Imam ad-Daraquthny berkata: “Ia seorang matruk (yang ditingggalkan haditsnya dan tertuduh dusta).”
Imam Abu Zur’ah berkata: “Ia bukan orang yang kuat.”
Imam al-Haitsamy berkata: “ ‘Ali bin Yazid adalah seorang matruk.”
[Periksa: Mizaanul I’tidal (III/161, no. 5966), Taqriibut Tahdziib (II/705, no. 4933), al-Jarh wat Ta’dil (VI/208), Lisanul Mizan (VII/ 314), Majmu’uz Zawaaid (VII/31-32)]

[2]. Mu’aan bin Rifaa’ah as-Salamy, seorang perawi yang dha’if (lemah).
Ibnu Hajar berkata: “Ia adalah seorang rawi yang lemah dan ia sering memursalkan hadits.” [Periksa: Taqriibut Tahdziib (II/194, no. 6771)]
Kata Imam adz-Dzahabi: “Ia tidak kuat haditsnya.” [Periksa: Mizaanul I’tidal (IV/134)]
Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Hammad, ia berkata: “Salamah dari Ibnu Ishaq dari ‘Amr bin ‘Ubaid dari al-Hasan: ‘Bahwa yang dimaksud ayat itu (9: 75) adalah Tsa’labah bin Haathib Mu’aththib bin Qusyair keduanya dari bani ‘Amr bin ‘Auf.’” [Periksa: Jami’ul Bayaan fii Ta’-wiilil Qur-aan (IV/ 427, no. 17005)]

Adapun kelemahannya adalah:
[1]. Mursal Hasan al-Bashry, ia seorang tabi’in.
[2]. ‘Amr bin ‘Ubaid Abu ‘Utsman al-Bashri al-Mu’tazili.
Kata Ibnu Ma’in: “Tidak boleh ditulis haditsnya.”
Kata Imam an-Nasaa-i: “Matruk, tidak kuat, tidak boleh ditulis haditsnya.”
Kata Imam al-Fallas: “ ‘Amr ditinggalkan haditsnya dan dia adalah ahli bid’ah.”
Kata Abu Hatim: “Matrukul Hadits.”
[Lihat Mizaanul I’tidal (III/273-280) dan Tahdzibut Tahdzib (VIII/62-63)]

PARA ULAMA YANG MELEMAHKAN HADITS-HADITS INI
Di Antaranya ialah:
[1]. Imam Ibnu Hazm, ia berkata: “Riwayat ini bathil.” [l-Muhalla (XI/207-208).]
[2]. Al-hafizh al-’Iraqy berkata: “Riwayat ini dha’if.” [Lihat Takrij Ahaadits Ihya’ Ulumuddin (III/287).]
[3]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany berkata: “Riwayat tersebut dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah.” [Lihat Fat-hul Baari (III/266)]
[4]. Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi: “(Riwayat ini) dha’if.” [Lihat al-Bayan wat Ta’rif (III/66-67)]
[5]. Al-Munawi berkata: “(Riwayat ini) dha’if.” [Lihat Fai-dhul Qadir (IV/527).]
[6]. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Hadits ini dha’ifun jiddan.” [Lihat Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (IX/78 no. 4081)]

RIWAYAT YANG BENAR
Tsa’labah bin Haathib adalah seorang Sahabat yang ikut dalam perang Badar sebagaimana disebutkan oleh:
[1]. Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqaat (III/36).
[2]. Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istii’ab (hal. 122).
[3]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany di dalam kitab al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (I/198). Beliau ber-kata: “Tsa’labah bin Hathib adalah Shahabat yang ikut (hadir) dalam perang Badar.

Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ahli Badar:

لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَّةَ.

“Artinya : Tidak akan masuk Neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah.” [HR. Ahmad (III/396), lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 2160)]

[4]. Kata Imam al-Qurthuby (wafat th. 671 H): “Tsa’labah adalah badry (orang yang ikut perang Badar), Anshary, Shahabat yang Allah dan Rasul-Nya saksikan tentang keimanannya seperti yang akan datang penjelasannya di awal surat al-Mumtahanah, adapun yang diriwayatkan tentang dia (tidak bayar zakat) adalah riwayat yang TIDAK SHAHIH. [Tafsir al-Qurthuby (VIII/133), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah]

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HIKAYAT TSA’LABAH YANG TIDAK BENAR DI ATAS
Sesudah kita mengetahui kelemahan riwayat tersebut, maka tidak halal bagi seorang muslim pun untuk mem-bawakan riwayat Tsa’labah sebagai permisalan kebakhilan, karena bila kita bawakan riwayat itu berarti:

Pertama : Kita berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua : Kita menuduh seorang Shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang buruk.
Ketiga : Kita telah berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.

Ingat, kita tidak boleh sekali-kali mencela, memaki atau menuduh dengan tuduhan yang jelek kepada para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

“Artinya : Barangsiapa mencela Shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, Malaikat dan seluruh manusia.” [ HR. Ath-Thabrani di dalam kitab al-Mu’jamul Kabir (XII/110, no. 12709) dan hadits ini telah di-hasan-kan oleh Imam al-Albany dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 2340), Shahih al-Jaami’ush Shaghir (hal. 2685)]

Wallaahu a’lam bish Shawaab.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

_________
MARAAJI’
[1]. Tsa’labah bin Haathib ash-Shahaby al-Muftara’ ‘alaihi, oleh ‘Adab Mahmud al-Humasy, cet. Daarul Amaani, Riyadh, th. 1407 H.
[2]. Asy-Syihaab ats-Tsaqiib fidz Dzabbi ‘anish Shahabil Jalil Tsa’labah bin Haathib, oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Daarul Hijrah, cet. II, th. 1410 H.
[3]. Mizaanul I’tidal fii Naqdir Rijal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: ‘Ali Muhammad al-Bijaawy, cet. Daarul Fikr.
[4]. Majmu’-uz Zawaa-id wa Mamba-ul Fawaa-id, oleh Imam al-Haitsamy.
[5]. Al-Muhalla, oleh Ibnu Hazm.
[6]. Tafsir ath-Thabary, oleh Imam ath-Thabary, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[7]. Tafsir al-Qurthuby, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthuby.
[8]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqa-lany, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[9]. Al-Jarh wat Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim ar-Razy, cet. Daarul Fikr.
[10]. Al-Mu’jamul Kabir, oleh Imam ath-Thabary, tahqiq: Hamdi Abdul Majid as-Salafy.
[11]. Adh-Dhu’afa’ wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i, cet. Daarul Fikr.
[12]. Fai-dhul Qadir, oleh al-Munawy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[13]. Fat-hul Baari, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, cet. Daarul Fikr.
[14]. Al-Ishaabah fii Tamyizish Shahabah, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar ‘al-‘Asqalany.
[15]. Al-Istii’ab bi Ma’rifatil Ash-haab, oleh al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr (bihaamisy al-Ishaabah.)
[16]. Lisaanul Miizan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
[17]. Ihya’ ‘Ulumuddin, oleh Imam al-Ghazaly, (bi Haamisyihi takhrij lil-Hafizh al-‘Iraaqy.), cet. Daarul Fikr, th. 1418.
[18]. At-Tashfiyyah wat Tarbiyyah wa Aatsaariha fisti’naafil Hayaatil Islaamiyyah, oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Atsary.
[19]. Asbaabun Nuzul, oleh Imam Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad al-Wahidy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[20]. Tahdziibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
[21]. Silsilatul Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
[22]. Shahih al-Jaami’-ush Shaghir, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.

Menakar Rasa Syukur

Posted by kasmamtafoundation on November 29, 2011
Posted in: Wawasan. Leave a Comment

”Anda termasuk orang yang tidak bersyukur!”, Apa yang akan anda katakan saat ada seorang yang bertanya demikian?

Wajar kita marah kalau dituduh sebagai orang yang tidak bersyukur. Wajar kita tersinggung saat diragukan kesyukuran kita, lebih-lebih yang bertanya itu adalah Allah, penggenggam setiap nyawa manusia. Adalah baik manakala kita masih bisa tersinggung dengan ucapan itu. Itu artinya hati kita masih peka, merasakan sindiran halus.

Lantas apa yang perlu dilakukan selanjutnya dengan ucapan tadi? Diakui atau tidak, sifat manusiawi kita lebih memilih kesenangan jangka pendek ketimbang jangka panjang. Lebih memilih kesenangan duniawi daripada kebahagiaan akhirat. Pada dasarnya, manusia tidak mau berpayah-payah menjalani kehidupan semu ini. Enggan berbagi dengan sesama. Enggan berkorban untuk kemajuan atau perkembangan orang lain, saudara kita. Karena setiap saat ada setan di depan, belakang, kanan, dan kiri yang membisiki,”Itukan hasil keringatmu sendiri, apa kamu rela oranglain dapet enaknya juga. Mereka kan gak kerja keras seperti kamu, wajar dong mereka hidup susah!”.

Rasa syukur bisa diwujudkan dengan berkata jujur, berkata baik, berhati lembut, senang berbagi, ringan tangan, lidah yang tak lelah mengucap asma Allah, raga diniatkan untuk mendalami ilmu agama, mulut tidak digunakan untuk menggunjing, serta harta untuk diinfakkan. Sungguh jika semua hal di atas telah dan senantiasa kita lakukan, insyaAllah kesyukuran kita akan semakin sempurna. Sempurna penerimaan Allah. Sempurna pengabdian diri sebagai khalifatullah. Sempurna memanfaatkan semua potensi diri.

Kufur nikmat

Atas RububiyyahNya Allah memberikan hidayah gharizah kepada semua makhlukNya, tak terlepas pun manusia. Gharizah adalah keinginan untuk makan ketika lapar, kemauan untuk minum ketika haus, hasrat untuk istirahat di saat lelah, dia adalah naluriah manusia.

Sebagai Sang Khaliq Allah sangat mengetahui bahwa salah satu watak dasar manusia adalah cenderung melakukan hal-hal yang didorong oleh hawa nafsu dan cenderung pada kejahatan. Namun demikian, hal ini tidak berlaku untuk semua manusia, nafsu yang diberi rahmat oleh Allah memiliki kecenderungan sebaliknya, yaitu keinginan kuat untuk selalu dan senantiasa berbuat baik serta bermanfaat. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku [QS. Yusuf:53].

Harta benda yang Allah karuniakan, pembelanjaannya tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu. Bayangkan saja, tidak berat melepas lembaran seribu rupiah untuk bayar parkir, toilet umum, jajan, bayar angkot, bahkan ada orang yang enggan menyimpan lembaran seribu rupiah tersebut. Berbeda halnya saat kotak infak sholat jumat di edarkan memutari semua shaf, lihatlah kawan! Mana yang lebih banyak, meneruskan perjalanan atau berhenti karena ada yang ngisi? Di sebuah masjid salah satu BUMN, jamaah sholat jumatnya rata-rata 2000 orang. Saat pembacaan laporan saldo di awal khutbah disampaikan bahwa seminggu sebelumnya infak yang diperoleh di kisaran dua juta rupiah, tak jauh dari itu. Padahal kan seharusnya bisa jauh lebih besar dari itu bukan? Jika satu orang menyisihkan seribu rupiah saja, angkanya sudah mencapai dua juta. Sementara ada yang berlomba berinfak hatta ada yang memberikan seratus ribu rupiah. Jadi, angka dua juta rupiah itu bukan karena semua orang berinfak, bukan sobat. Tapi lebih karena kesadaran sebagian orang untuk berinfak tidak sekadarnya, tidak cukup hanya dengan seribu rupiah, tapi menyempurnakan kesyukuran terhadap rizki yang dikaruniakan, 100 ribu.

Sobat, rasakan kedalaman salah satu ayat dalam AlQuran:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Benarkan? Begitu dalam. Tidak hanya harta yang diinfakkan. Masih banyak manifestasi atau pengamalan bentuk rasa syukur kepada Allah. Hati yang bersih, Jiwa yang lapang, pandangan yang menyejukkan, perilaku yang menyelamatkan, perkataan yang santun, dan masih banyak lagi. Melihat titah Allah dalam hal bersyukur, semua perilaku yang bertolak belakang dengannya berarti kufur. Dan kufur adalah mengingkari Allah. Dan akibatnya, Allah tentu akan murka dengan orang yang kufur. Murka itu bisa berbentuk kehidupan yang sempit, baik berupa harta (material) maupun jiwa (immaterial). Na’udzubillahi mindzalik.

Mendidik jiwa yang bersyukur

Jika dibiarkan saja, manusia tentulah menjadi makhluk yang tidak bersyukur. Oleh karenanya Allah mengutus nabi dan rasul untuk mendidik manusia agar menjadi khalifah di muka bumi. Bayangkan saja, dengan adanya nabi pun masih saja ada kaum yang ingkar dan menentang Allah, bagaimana kalau sama sekali tidak ada yang menyeru pada kebaikan. Sobat, ingatlah bagaimana kaum nabi Luth, kaum ‘Ad, dan Fir’aun.

Untuk bisa bersyukur kita harus terlebih dahulu menyadari bahwa jiwa kita senantiasa perlu dididik serta diarahkan, kapan saja di mana saja. Ingatlah ayat berikut:

Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. [Q.S. As-Sajdah: 9].

Ingat, Allah telah mengabarkan bahwa pada dasarnya manusia itu hanya sedikit yang bersyukur. Tidak percayakah? Coba hitung, saat ini berapa jumlah muslim di dunia? Berapa persen dari seluruh penduduk dunia? Dari jumlah itu, berapa persen yang rajin shalat berjamaah ke masjid? Berapa orang yang rutin berzakat? Berapa persen yang rajin berinfak? Berapa persen yang menjaga lisan dan tangannya? Berapa orang kawan? Itulah sedikit bukti manusia itu sedikit yang bersyukur.

Salah satu bentuk bersyukur adalah senantiasa berbuat kebaikan. Kapan pun, di manapun, kepada siapapun, sekecil apapun amalan? Dari banyak amal sholeh yang disediakan, berapa persen yang kita terbentik dan tertarik mengamalkannya. Coba hitung! Seorang ulama kenamaan dari Mesir pada abad pertengahan, menyusun rembu-rambu untuk mengecek apakah kita termasuk orang yang bersyukur. Beliau mengatakan,”Di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya perasaan sedih bila terlewatkan kesempatan beramal, dan tidak adanya penyesalan atas bermacam pelanggaran yang telah engkau lakukan”. Beliau adalah Syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Abbazsukarno [alumnus 2002]

Beasiswa KASMAMTA FOUNDATION

Posted by kasmamtafoundation on November 17, 2011
Posted in: Uncategorized. Leave a Comment

Sekretariat : Jl. Ki Hajar Dewantoro, Jebres Surakarta (Kedai Kopi Arjuna Indonesia, depan RSJ Kentingan)

PENDAHULUAN 

Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak pada era kemajuan sekarang ini. Tingkat pendidikan suatu bangsa menentukan percepatan peradaban yang akan dicapainya. Pada faktanya pendidikan masih merupakan barang mahal di negeri ini. Sehingga banyak kalangan masayarakat yang tidak bisa meraihnya. Keprihatinan akan hal tersebut menggerakkan kami untuk ikut meringankan beban masyarakat dalam mendapatkan pendidikan yang layak, tentunya sesuai dengan kemampuan yang ada.

STRUKTUR KOORDINASI

Koordinator pusat : Abdul Mun’im     (085728327002)

Sekretaris                  : Alip Rahmadi       (08562548008)

Bendahara                 : Muhammad Nur (085885998791)

Koord. Surakarta    : Ubaidillah             (085642131041)

Koord. Sragen          : Azwar Ali               (085225994643)

Koord. Sukoharjo   : Sahirul Alim Ismail (085728432002)

Koord. Klaten          : Idris Ahmad          (085647388907)

Koord. Karanganyar : Didik Mulyadi   (08562678016)

Koord. Boyolali      : Muhammad Habib Anshori (08157778904)

Koord. DIY              : Rahmat Dwi Arianto (085643065653)

Koord. Batam         : Munir Rubiakto           (085640622637)

Koord. Jakarta      : Ari Setiyawan                (085651186969)

Koord. Korea         : Nashir Almaududi

 

PROGRAM KEGIATAN

Kasmamta Foundation melakukan penggalangan dana untuk beasiswa bagi siswa-siswi SMU MTA Surakarta yang kurang mampu. Kami menawarkan beberapa paket untuk diambil bagi alumni maupun non alumni SMU MTA Surakarta sebagai donatur. Paket tersebut yaitu:

Paket Gold : Rp 50.000,00 per bulan

Paket Silver : Rp 10.000,00 per bulan

Donatur menyerahkan uang senilai dengan paket yang diambil kepada Kasmamta Foundation untuk disalurkan sebagai beasiswa untuk siswa-siswi SMU MTA Surakarta. Penyerahan dapat melalui koord. daerah atau ke rekening Bank Syariah Mandiri no 073 7027694 a/n Alip Rahmadi.

 

PENUTUP       

Demikian penjelasan singkat Kasmamta Foundation ini disusun. Mudah-mudahan dapat menjadi awal bagi peran kita untuk pendidikan bangsa dan negara. Bagi koordinator semoga dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan bagi donatur dapat menghubungi koordinator masing-masing daerah.

Prolog

Posted by kasmamtafoundation on November 17, 2011
Posted in: Uncategorized. 3 comments

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barokatuhu

Ikhwaniy wa akhowatiy fiddiin rakhimaniy wa rakhimakumullah

Blog ini sebagai sarana untuk mengkomunikasikan program KASMAMTA FOUNDATION. Semoga dengan program – program KASMAMTA FOUNDATION ke depan dapat memberikan setitik kontribusi positif untuk SMA MTA Surakarta yang kita banggakan. Apa yang kita keluarkan dari maal yang kita dapatkan untuk sekolah kita, tidaklah sebanding dengan ilmu yang pernah kita peroleh darinya…

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuhu

Baarakallahu fiikum

Hello world!

Posted by kasmamtafoundation on November 17, 2011
Posted in: Uncategorized. 1 comment

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Posts navigation

  • Recent Posts

    • Hadits Tsa’labah bin Hathib
    • Menakar Rasa Syukur
    • Beasiswa KASMAMTA FOUNDATION
    • Prolog
    • Hello world!
  • Archives

    • November 2011
  • Categories

    • Uncategorized
    • Wawasan
  • Meta

    • Register
    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.com
Blog at WordPress.com. Theme: Parament by Automattic.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com